Amplop Merah Marun
4/11/2011 | 07 Zulhijjah 1432 H Please wait
Oleh: Insan Konayukidakwatuna.com – Pemuda itu tampak murung dan kecewa – mengerenyitkan dahi – pendapatnya terus ditentang habis-habisan, ia sama kerasnya, tak mau kalah, selalu memberikan argument-argumen yang mematikan, namun perdebatan tiba-tiba itu terhenti, ketika pemuda itu tertegun, seseorang lawan diskusinya mulai sesegukan, suara yang tak ingin didengarnya, suara
yang membuat hatinya terenyuh kesakitan pula, suara yang membuatnya seperti orang bersalah. Suara itu lama-kelamaan semakin merendah sembari menjauhkan ganggang telepon sekitar beberapa senti saja, seperti ingin menyembunyikan tangisannya di hadapan pemuda itu, perlahan-lahan air mata itu keluar, pemuda itu dapat merasakannya walau jarak mereka sangat jauh, ribuan kilometer. Tak terasa air mata pemuda itu pun mengalir jua, ia juga tak tahan melihat seseorang wanita menangis, yah..lawan diskusinya itu adalah seorang wanita, dan terlebih lagi wanita itu adalah orang yang melahirkan diri pemuda itu dengan penuh kasih sayang dan cinta, tanpa pernah merasa mengeluh dan meminta balasan kepada pemuda itu. Keduanya hanya diam mematung, mulut mereka terpaku untuk melanjutkan berbicara, keduanya sama-sama tak tahu harus berbuat apa, si pemuda itu pun tak berani untuk sekedar menanyakan seperti “ibu kok nangis?” kata-kata itu hanya terbesit dan tersimpan dalam hatinya.
Komentar
Posting Komentar